Kiamat sebenarnya bukan monopoli telaah ilmuwan. Sejumlah agama dan
keyakinan tradisional bahkan memuat nubuat akhir zaman itu. Gambaran
kemusnahan dunia yang tak disangka menjelang penghakiman terakhir,
digambarkan dengan cara apokaliptis. Momen sakral itu tidak saja
diyakini secara harafiah, bahkan --oleh para penganut tiga agama samawi
(Yahudi, Kristen, dan Islam)-- dipahami dengan kacamata iman.
Belakangan, demam 2012 melanda publik. Diawali dengan munculnya puluhan
buku tentang penyingkapan tahun 2012. Antara lain: 2012: Mayan Year of
Destiny, Beyond 2012: Catastrophe or Awakening?, 2012: Science or
Superstition, The Mystery of 2012: Prediction, Prophecies, and
Possibilities, How To Survive 2012, Unlocking the Secrets of 2012, dan
Fractal Time: The Secret of 2012 and a New World Age.
Sejumlah penulis mengungkap bakal terjadinya kiamat pada 2012. Bencana
itu bisa terjadi karena berbagai faktor, baik internal maupun eksternal.
Pemicunya: perubahan drastis yang terjadi di muka bumi karena pemanasan
global, erupsi supervulkanik, pergeseran medan magnet bumi, koyaknya
perisai magnet bumi, radiasi panas matahari, tubrukan antarplanet,
hingga efek badai awan antarbintang.
Dari sejumlah karya, buku Apocalypse 2012: An Investigation into
Civilization's End tulisan Lawrence E. Joseph --yang telah diterjemahkan
dan diterbitkan Gramedia Pustaka Utama-- bisa menjawab keingintahuan
mengenai kiamat 2012. Penulis tidak saja menyuguhkan cerita Harmagedon
dari aspek ramalan bangsa Maya, melainkan juga mengajak pembaca
berkelana memasuki rahasia bumi, matahari, tata surya, kosmis, galaksi,
dan luar angkasa.
Joseph tidak saja menggali isi buku, jurnal ilmiah, hasil simposium,
hingga ramalan dukun terkait 2012. Ia juga mencari pengetahuan pada
sejumlah temuan misi luar angkasa NASA (badan antariksa Amerika Serikat)
dan ESA (badan antariksa Eropa). Tak ketinggalan pula, ia berusaha
menyingkap tabir rahasia 2012 dengan bertanya kepada para fisikawan dan
ilmuwan luar angkasa yang tergila-gila pada prospek 2012.
Di dunia internet, ratusan situs meramaikan pro dan kontra soal ramalan
bangsa Maya. Bahkan resep teknis dan spiritual dalam menghadapi kiamat
pun tersajikan. Yang paling menarik adalah penjelajahan memasuki ranah
astronomi. Bagaimana superorganisme seperti bumi mengalami evolusi dalam
interaksi dengan matahari, planet lain, serta energi dan materi yang
ada di ruang angkasa.
Mengapa 2012?
Angka 2012 mendadak menggetarkan banyak orang. Muncul karena bangsa Maya
--berdasarkan sistem "perhitungan panjang"-nya-- meramalkan bahwa pada
21 Desember 2012 (21/12/12) akan terjadi gangguan pada rotasi bumi. Pada
waktu itu, tata surya, dengan matahari sebagai pusatnya, akan menutupi
pemandangan pusat galaksi Bimasakti dari bumi. Ini terjadi setiap 26.000
tahun sekali.
Ketika itu terjadi, maka terputusnya pancaran dari pusat galaksi akan
merusak mekanisme normal di bumi dan tata surya. Konsekuensi fenomena
itu adalah bencana dan dislokasi dalam skala global karena pergeseran
konfigurasi planet, sekecil apa pun. Tentu, sebagai sebuah ramalan,
kebinasaan yang bakal terjadi pada 2012 adalah prospek. Bisa terjadi,
tapi ada kemungkinan luput.
Bahkan, kalaupun bencana itu tiba, belum tentu seluruh permukaan bumi
luluh lantak dan semua kehidupan musnah. Namun skenario terburuk telah
menjadi pemikiran banyak ilmuwan dan astronom. Sebab kini tugas ilmu
pengetahuan tidak sekadar membongkar rahasia alam semesta. Meramalkan,
memprediksi, dan mencari alternatif keluarnya secara ilmiah adalah
sebagian dari tanggung jawab para ilmuwan.
Kini para ilmuwan terus sibuk mencari korelasi bintik matahari dan
ledakan-ledakan surya yang lain dengan fenomena di muka bumi, seperti
badai, topan, letusan vulkanik, dan berbagai gempa besar. Lebih dari 10
satelit penelitian matahari diluncurkan sejak Helios I dan II
mengangkasa pada pertengahan 1970. Mayoritas satelit dikirim NASA dan
ESA. Pada 1980, misalnya, misi Maksimum Matahari dikirim guna mengamati
aktivitas surya pada puncak daur bintik matahari.
Lalu, pada 1990, satelit Ulysses diluncurkan dengan tujuan khusus pada
bagian tertentu spektrum matahari, seperti sinar-X, ultraviolet, dan
angin surya. Satelit yang disponsori NASA dan ESA itu, menurut kantor
berita Reuters, 30 Juni lalu, akan segera mengakhiri tugasnya. Misi
tersebut berumur empat kali lebih lama dari prediksi semula. Satelit
sebesar mobil VW itu, dengan kecepatan 56.000 kilometer per jam, telah
menempuh perjalanan hampir 8,85 milyar kilometer atau sepadan dengan
tiga kali putaran orbit matahari.
Diperkirakan, ketika jarak Ulysses dengan matahari sekitar 705 juta
kilometer, transmisi kontak wahana tak berawak dengan bumi itu akan
mati. Ed Smith, peneliti di laboratorium pendorong jet NASA, Pasadena,
California, menyatakan bahwa data yang diperoleh selama misi
memperlihatkan gambaran yang belum pernah ada mengenai siklus aktivitas
matahari dan tata surya serta konsekuensinya. "Hal itu akan menjadi
bahan riset para peneliti untuk beberapa tahun mendatang," katanya,
seperti dikutip Reuters.
Lebih dari 1.000 artikel ilmiah dan dua buku dihasilkan dari informasi
yang diperoleh Ulysses. Selain mengungkap adanya angin surya dan
faktor-faktor penyebabnya, Ulysses juga mendalami partikel-partikel yang
dipancarkan matahari ke seluruh tata surya. Ternyata aliran kuat
partikel-partikel sub-atom yang memancar dari surya hingga 1 juta mil
per jam berkurang hingga level terendah dalam 50 tahun terakhir.
Data berharga lainnya adalah info mengenai kawasan kutub matahari, debu
antariksa di tata surya, planet Jupiter, dan objek transitnya. Info baru
yang bisa diketahui manusia, menurut Ed Smith dari NASA, adalah soal
heliosfer. "Ulysses telah memformat ulang pengetahuan soal heliosfer dan
menyuguhkan informasi tentang lingkungan sekitar tata surya yang belum
banyak terungkap," ujar Smith.
Heliosfer adalah selubung pelindung yang dihasilkan matahari melalui
anginnya bagi bumi dan tujuh planet lain yang mengitarinya. Angin surya
itu berperan menyapu radiasi dan sinar kosmik yang datang dari galaksi
lain. Secara teori, heliosfer yang melemah akan membuat masuknya sinar
kosmik ke tata surya makin besar. Radiasi sinar kosmik yang makin kuat
tentu makin membahayakan para astronot ketika berada di luar angkasa.
Ancaman Bintik Surya
Selain Ulysses, generasi satelit terbaru yang memelototi aktivitas surya
dalam relasinya dengan bumi adalah SOHO (Solar and Heliospheric
Observatory --Pengamatan Surya dan Heliosfer) yang meluncur pada 2
Desember 1995. Tugas utamanya adalah mengidentifikasi lontaran CME
(coronal mass ejections) atau ledakan bintik matahari, letupan surya,
angin surya, dan semacamnya, yang menuju ke bumi. Info itu berguna bagi
para ilmuwan untuk mengupayakan perlindungan terhadap satelit,
pembangkit listrik surya, dan berbagai teknologi yang sensitif terhadap
surya.
Faktanya, kini hanya sedikit satelit yang diberi perisai letupan surya
dengan alasan mahal, tidak praktis, dan membatasi fungsi satelit. Bisa
dibayangkan, jika serentetan badai surya massif terjadi sepanjang 2012,
maka kelumpuhan telekomunikasi kamersial karena gangguan pada
satelit-satelit akan terjadi. Kini SOHO terus memberikan informasi ke
kontrol misi yang dikelola NASA di Goddard Space Flight Center di
Maryland, tak jauh dari Washington.
CME adalah gas awan superpanas yang keluar dari surya dan melesat
melalui ruang antarplanet. Ia menciptakan gelombang kejut yang
meningkatkan kecepatan beragam partikel. Banyak proton di depannya
terkena efek desakan dan menghasilkan badai proton. CME bergerak dengan
kecepatan 1.000 sampai 2.000 kilometer per detik. Jika CME mengarah ke
bumi, efeknya akan dirasakan satu atau dua hari kemudian.
Dua dasawarsa ini memang menjadi momen bagi para ilmuwan untuk
mengerubuti matahari, pusat tata surya, yang ribuan tahun dimengerti
manusia sebagai sumber stabilitas dan energi bagi kehidupan. Untuk
menyelidiki struktur magnetik --termasuk bintik matahari yang muncul di
permukaan surya-- maka meluncurlah TRACE (Transition Region and Corona
Explorer). Penjelajah Kawasan dan Korona Transisi ini akan melengkapi
RHESSI (Reuven-Ramaty High Energy Solar Spectroscopic Imager
--Pencitraan Spektroskopi Surya Kekuatan Tinggi Reuven-Ramaty), yang
menyajikan citra sinar-X dan sinar gama letupan surya sejak 2002.
Bahkan, sejak 2003, University of Colorado, dengan Laser and Spectrum
Physics Laboratory, mengoperasikan satelit SORCE (Solar Radiation and
Climate Experiment) untuk menjawab rasa penasaran atas efek matahari
terhadap atmosfer bumi. SORCE akan ditemani armada satelit STEREO yang
diluncurkan NASA, satelit Yokoh B yang diluncurkan badan antariksa
Jepang, dan Solar Dynamics Observatory (SDO) milik NASA.
Satelit STEREO berfungsi bak sepasang mata yang menyediakan gambar tiga
dimensi CME. Lalu Yokoh B akan menyediakan gambar-gambar resolusi sangat
tinggi pada kejadian di matahari. Sedangkan SDO bertugas mengurai
dampak kejadian di matahari terhadap bumi.
Belakangan, ada pemikiran yang didasarkan pada temuan ilmiah bahwa
planet-planet, termasuk bumi, membantu timbulnya bintik matahari dan
sekaligus dipengaruhi olehnya. Konfigurasi dan jajaran planet memberi
pengaruh besar kepada matahari. Pengetahuan tentang konfigurasi planet
dan efek energinya terhadap tata surya terus berkembang, tidak sekadar
dalam tataran astrologi atau ilmu ramalan, melainka juga ranah ilmiah
murni.
Tim inti ilmuwan angkasa mengemukakan bahwa planet bumi secara reguler
memancarkan pengaruh elektromagnetik dan gravitasi yang signifikan
terhadap matahari. Perlu dipahami bahwa surya berkarakter cair dan
lembek, sehingga lebih rentan terhadap tarikan magnetik dan gravitasi.
Empat planet dalam yang berada di sisi matahari seolah dibatasi asteroid
yang memisahkan Mars dan Jupiter. Dari empat planet dalam, yakni
Merkurius, Venus, bumi, dan Mars, ternyata bumi memiliki massa terbesar,
medan gravitasi terkuat, dan medan magnet terbesar.
Dengan demikian, relasi matahari-bumi berjalan dua arah. Ada sistem
umpan balik energik antara matahari dan bumi yang melahirkan berbagai
fenomena menarik nan dahsyat. Topan, letusan vulkanis, gempa bumi, dan
kejadian iklim/seismik lain pada saat sejumlah besar energi dilepaskan
tak lain adalah efek hubungan bumi mempengaruhi dan dipengaruhi bintik
matahari. Ada pergeseran pandangan bahwa tidak hanya matahari yang
mempengaruhi bumi, melainkan ada hubungan energi dua arah, meskipun
pengaruh matahari jelas lebih besar.
Nah, apa yang terjadi jika efek saling mempengaruhi medan magnet itu
terjadi pada 11 planet, plus matahari. Matahari, 10 planet tata surya,
termasuk planet X terbaru, dan bulan --satelit bumi-- saling menarik.
Pengaruh terbesar muncul jika gabungan planet berada dalam posisi
segaris 0 derajat atau bisa saja membentuk bujur sangkar 90 derajat.
Sejumlah konfigurasi mampu memicu keretakan lapisan luar matahari dan
mengaduk-aduk isinya.
Richard Michael Pesichnyk dan ilmuwan angkasa lainnya memegang keyakinan
bahwa sudut antarplanet menentukan pengaruh relatif planet-planet.
Demikian pula, pusat massa tata surya tidak berada di inti matahari.
Pusat massa itu selalu berubah, sebagai dampak pola orbit dan jajaran
planet. Menurut Thomas Burgess, fisikawan kuantum benda-benda padat,
jajaran planet dapat bergerak ke titik yang hanya berjarak 1 juta mil
atau 1,6 juta kilometer dari matahari.
Jika hal itu terjadi, matahari akan mengembung ke arah pusat massa tata
surya. Semakin besar daya tarik gravitasi terhadap matahari, semakin
besar pula kemungkinan permukaan matahari merekah dan bocor, melepaskan
apa yang disebut "radiasi terpenjara", yang puluhan ribu tahun
terperangkap dalam selubung luar matahari.
Pada kondisi normal, radiasi itu merambat dari matahari secara stabil
dan hampir konstan. Namun, ketika permukaan matahari terkoyak, "radiasi
terpenjara" itu akan meletup, menimbulkan ledakan besar. "Radiasi
terpenjara dapat lolos dari matahari lewat robekan atau gelembung
negatif," kata Burgess, seperti dikutip Lawrence E. Joseph. Gelembung
negatif itu berwujud cekungan di permukaan matahari. Kondisi ini membuat
radiasi akan mudah menembus massa yang lebih sedikit.
Runyamnya, menurut perhitungan Burgess, jumlah total terbesar daya
tarik-menarik planet-planet terhadap matahari bakal terjadi pada akhir
2012. Bintik surya maksimum yang diperkirakan terjadi tahun itu akan
makin memperburuk situasi karena bakal membantu desakan matahari dengan
tekanan maksimum.
Di samping itu, kutub magnetik matahari yang berganti posisi setiap 22
tahun, pada puncak setiap daur kedua, diprediksi akan terjadi pada 2012.
Hal ini bakal meningkatkan ancaman bahaya. Kemungkinan ledakan besar
mematikan akan dialami bumi sejak kemunculan manusia.
Perisai Magnetik Bumi Terkoyak
Daya serangan radiasi matahari itu akan makin besar ketika medan magnet
pelindung bumi ternyata juga terkoyak. Para ahli geofisika telah lama
meneliti rekahan sebesar California yang muncul di medan magnet
pelindung bumi dari Hermanus Magnetic Observatory, Tanjung Barat Daya,
Afrika Selatan. Pieter Kotze, seorang ahli geofisika di Magnetic
Observatory, telah mendokumentasikan penipisan medan magnet pelindung
bumi.
Kotze mendapatkan data itu melalui komputer canggih yang dapat
menganalisis data dari sensor elektromagnetik yang tertanam di bawah
tanah. Medan magnet bumi berasal dari perputaran inti besi cair bumi.
Memang hukum inersia dan hukum yang mengatur listrik serta magnetisme
tidak bisa dianulir. Namun medan magnet pelindung yang membentengi
permukaan bumi dari radiasi proton dan elektron yang berlebihan tidak
bersifat abadi.
Berlimpahnya radiasi surya ternyata juga akan menghalangi sinar kosmis.
Padahal, sinar kosmis berupa partikel dan gelombang luar angkasa yang
sangat aktif berperan dalam sebagian besar formasi awan di sekitar bumi.
Awan, terutama yang melayang rendah, membantu menghalangi radiasi
inframerah panas dari matahari. Proses ini sangat membantu menjaga
permukaan bumi tetap dingin.
Terkoyaknya medan magnet bumi atau magnetosfer adalah sebuah ancaman.
Pasalnya, medan magnet bumi berfungsi memantulkan radiasi surya dan
menyalurkannya ke sabuk yang mengelilingi atmosfer luar planet bumi.
Magnetosfer ini berupa medan elektromagnetik raksasa yang menyembur dari
kedua kutub, laiknya perilaku bijih besi di sekitar magnet batang dan
mengembang jauh di atmosfer.
Menurut Kotze, medan magnet antarplanet (interplanetary magnetic field,
yang pada intinya merupakan medan magnet yang memancar dari matahari,
juga mempengaruhi ukuran dan bentuk magnetosfer. Ternyata medan magnet
antarplanet bisa memperkuat magnetosfer dengan masukan energi surya.
Pada waktu lain, medan magnet antarplanet menekan medan magnet bumi,
membuat makin padat, membelokkannya, dan bisa mengoyaknya.
Perisai pelindung bumi itu secara elementer bertugas melindungi
organisme hidup di permukaan bumi. Magnetosfer bumi menyalurkan radiasi
surya ke dua sabuk, yang dikenal sebagai sabuk radiasi Van Allen. Sabuk
yang ditemukan James A. Van Allen melalui Explorer I dan Explorer II
pada 1958 itu terbentang pada ketinggian 10.000 hingga 65.000 kilometer.
Dalam pandangan Lawrence E. Joseph, banyak ilmuwan yang belum menemukan
jawaban mengapa medan magnet mulai menipis. Perkiraan terbesar, karena
adanya turbulensi di medan magnet antarplanet sampai kekacauan fluktuasi
inti cair bumi. Fenomena penipisan itu mengundang spekulasi bertukarnya
posisi kedua kutub planet bumi. Riset terhadap sampel inti es dan
sedimen dari dasar laut mengindikasikan bahwa kutub magnetik pernah
bertukar tempat. Terakhir kali terjadi kira-kira 780.000 tahun lalu.
Pergeseran kutub itu membawa konsekuensi dahsyat pada muka bumi. Geolog
William Hutton menyatakan, pergeseran kutub tipe kemerosotan mantel bumi
akan memicu pergeseran awal ekuator di atas permukaan bumi. Ketika
ekuator bergerak memasuki daerah baru di permukaan bumi, kawasan itu
akan mengalami perubahan daya sentrifugal dan ketinggian permukaan laut.
Gejala ini akan menyebabkan pembagian baru daratan dan laut serta akan
terjadi gerakan tektonis di kerak bumi. Bencana seismik dan tektonis pun
bakal sulit terhindarkan.
Meskipun pergeseran itu akan terjadi dalam waktu lama, yang pasti,
memudarnya medan magnet bakal melemahkan efek perlindungannya. Permukaan
bumi akan jauh lebih rentan terhadap radiasi, yang terus membombardir
dari luar angkasa.
Kejadian alam yang mengagetkan para ilmuwan adalah retaknya perisai
radiasi surya dan kosmis selama sembilan jam, sepanjang 160.000
kilometer, yang dikenal dengan sebutan anomali Atlantik Selatan. Menurut
Kotze, penipisan medan magnet bumi kemungkinan memicu penipisan lapisan
ozon. Ini terjadi, ketika radiasi proton matahari menembus perisai
magnetik bumi, reaksi kimia di atmosfer terpengaruh. Suhu pun meningkat
tajam dan tingkat ozon di stratosfer menurun drastis.
Penipisan ozon itu akan membuat atmosfer menjadi lebih mudah ditembus
sinar ultraviolet matahari. Bencana lebih besar tak bisa diprediksi.
Terutama ketika bumi menuju pergolakan abnormal solar maksimum, yang
diproyeksikan terjadi pada 2012. Radiasi surya dan kosmis akan memicu
berbagai persoalan kesehatan, jaringan listrik, iklim, dan lingkungan
hidup.
Memasuki Badai Awan Energi
Pengetahuan manusia mengenai penciptaan terus berkembang. Ketika ilmu
pengetahuan belum matang seperti saat ini, kisah penciptaan seperti pada
Kitab Kejadian mendominasi hampir selama dua abad. Kini ledakan besar
(big bang) diyakini sebagai awal alam semesta. Alam semesta pun
mengembang secara merata ke segala penjuru. Tidak ada yang tetap diam di
alam semesta ini, baik dari dimensi panjang, lebar, tinggi, maupun
waktu.
Pada konteks alam semesta yang dinamis dan terus bergerak, menurut Dr.
Alexey Dmitriev, ahli geofisika dari Russian Academy of Science, bumi
pada saat ini tengah berada dalam zona bahaya galaksi. Dmitriev adalah
geofisikawan yang memiliki 200 publikasi akademis, kebanyakan tentang
geofisika dan meteorologi, baik tentang bumi maupun planet lainnya.
Pada saat mengorbit pusat galaksi, matahari dengan tata suryanya
melewati berbagai area angkasa yang berbeda. Beberapa di antaranya
memiliki energi lebih besar dibandingkan dengan yang lain. Dmitriev
mengingatkan, kini hujan badai antarbintang sedang dilewati tata surya.
Bisa dipahami bahwa meningkatnya aktivitas surya adalah akibat langsung
meningkatnya aliran materi dan energi ketika tata surya memasuki awan
energi antarbintang.
Dmitriev mengemukakan tiga hal di alam semesta yang selama ini
dikesampingkan para ilmuwan ortodoks. Tiga hal itu adalah kondisi
dinamis dan tambahan media antarplanet, dampak energi dari konfigurasi
planet-planet tata surya, serta adanya impuls dari pusat galaksi. Tiga
hal itu begitu mempengaruhi bumi.
Bumi, selain berotasi sendiri dan mengelilingi matahari, juga bagian
dari tata surya yang bergerak di orbit tak dikenal melalui galaksi Bima
Sakti, yang juga berkelana di alam semesta. Ketika tata surya mengorbit
dan ikut berkelana menumpang galaksi Bima Sakti, diyakini oleh sebagian
fisikawan bahwa saat inilah tata surya memasuki awan energi.
Tata surya ibarat pesawat yang menjelajah dan mulai memasuki turbulensi
antarbintang. Ini terjadi karena adanya ruang antarbintang yang sifatnya
heterogen. Seperti objek yang melewati media lain, heliosfer (tata
surya) yang masuk ke ruang antarbintang lain menciptakan gelombang
kejut. Kekuatan gelombang akan bertambah besar ketika heliosfer memasuki
kawasan angkasa yang lebih padat. Gerakan ini, menurut Dmitriev, bakal
membentuk aliran materi dan energi dari ruang antarplanet ke tata surya.
Energi yang disuntikkan ke kawasan antarplanet bisa mengejutkan matahari
secara inkonsisten, membebani medan magnet bumi, dan memperparah
pemanasan global di bumi. Fenomena awan energi antarbintang ini juga
menjadi kajian Vladimir B. Baranov. Ilmuwan Rusia ini mengembangkan
model matematis heliosfer berdasarkan data dari Voyager.
Model Baranov itu, dari telaah para ilmuwan Rusia, Eropa, dan Amerika
Serikat, mengindikasikan kaitan hingga 96% antara data Voyager,
informasi NASA dan ESA, serta evaluasi dasar energi dan ruang yang
dikerjakan Dmitriev. Isinya dugaan bahwa heliosfer akan berada dalam
gelombang kejut selama 3.000 tahun selanjutnya. Sejumlah observasi pada
planet-planet luar sejak 2006 memperlihatkan sejumlah anomali.
Uranus dan Neptunus mengalami pergeseran kutub magnetik. Jupiter
memperlihatkan efek gelombang kejut dan melipatgandakan medan magnetnya
hingga melebar sampai ke Saturnus. Bahkan, sejak Maret 2006, muncul
bintik merah baru di Jupiter, seukuran bumi. Di lokasi bintik merah,
yang disebut Oval BA, itu kini terjadi badai elektromagnetik tanpa
henti.
Efek gelombang kejut itu juga dialami planet-planet dalam. Atmosfer
Mars, misalnya, semakin padat. Komposisi kimia dan kualitas optikal
atmosfer Venus berubah menjadi makin bercahaya. Juga matahari, yang
berada di pusat heliosfer, karena susunan materinya menjadi lebih rentan
terhadap efek energi dibandingkan dengan planet lain. Bumi sendiri
--dan planet yang lain-- berada dalam bahaya ganda sebagai dampak
langsung gelombang kejut dan pergolakan yang muncul di matahari.
Menurut hipotesis Gaia Lovelock, yang dikemukakan Gaia James Lovelock,
pada prinsipnya bumi berupa superorganisme. Ia bukan bongkahan batu dan
air yang tak bernyawa. Esensi hipotesis itu adalah sistem umpan balik
negatif, di mana biosfer menyesuaikan dan mengatur dirinya sebagai
kompensasi atas gangguan eksternal.
Nah, mekanisme adaptif biosfer ketika memasuki badai awan energi itu
bisa berupa apa saja. Jika tiba-tiba panas karena memasuki awan energi
antarbintang, biosfer akan mencari jalan untuk mendinginkan tubuhnya.
Salah satu jalan adalah dengan ledakan supervulkanik, yang bisa membawa
bumi pada zaman es. Tantangan biosfer bakal makin besar karena awan
energi antarbintang juga akan menyuntikkan kilat dan gelombang panas,
cahaya, serta radiasi elektromagnetik ke sistem iklim bumi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar